Ini Penjelasan Gelombang Bak Tsunami dari Danlanud Hingga Pakar

Loading...


Gema Rakyat - Masih banyak yang bertanya-tanya bagaimana air kolam renang yang tadinya tenang tiba-tiba beriak dan bergelombang lalu terpecah di pinggir kolam dengan sendirinya. Penjelasan ilmiah pun coba dicari untuk menjelaskan fenomena alam ini.

Di saat video air Kolam Renang Tirta Krida Lanudal Juanda itu viral, BKMG Juanda yang letaknya tak jauh dari kolam renang mengeluarkan pernyataan bahwa di hari air kolam beriak tidak sedang terjadi gempa.

Dalam siaran pers, BMKG menyebut di saat kejadian, sensor gempa di Stasiun Geofisika Tretes tidak mencatat adanya sinyal gempa. Dalam surat itu juga ditegaskan bahwa ombak yang muncul dari kolam renang bukan disebabkan oleh kejadian kegempaan yang tercatat di wilayah Surabaya, Sidoarjo dan sekitarnya.

"BMKG mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh kepada berita-berita yang meresahkan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan," jelas Koordinator BMKG Jawa Timur Mohammad Nurhuda, Selasa (2/10/2018).

Komandan Lanudal Juanda yang mengelola kolam renang juga telah meminta data ke BMKG Juanda untuk memastikan tidak adanya gempa saat muncul gelombang di kolam renang pada hari Jumat (28/9) sore tersebut.

"Pada saat itu memang tidak ada gempa. Kami tidak merasakan getaran di tanah waktu itu, tapi airnya memang bergelombang. Memang kalau tinjuan ilmiah memang sulit dijelaskan," tandasnya.

Pakar kebumian dan bencana dari Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) Dr Amien Widodo ikut berkomentar terkait fenomena di kolam renang milik Puslatdiksarmil Lanudal Juanda tersebut.

Menurutnya, fenomena serupa pernah terjadi di Jepang dan Meksiko. Secara kebetulan fenomena air di Sidoarjo tersebut terjadi sesaat sebelum gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Bedanya, di Jepang dan Meksiko, ombak tersebut datang bersamaan dengan gempa. "Kalau yang ada dulu di Jepang pada waktu gempa kolamnya bergerak seperti itu. Di Meksiko juga seperti itu sama, jadi memang hadirnya bersamaan dengan gempa," kata Amien.

Selain itu, jarak pusat gempa yang terjadi di Jepang dan Meksiko tak jauh dari kolam renang tersebut. Sementara fenomena yang terjadi di Sidoarjo, memiliki jarak yang sangat jauh, antara Sidoarjo dan Palu.

"Tapi kalau di sana itu dekat. Nah kalau yang ini jaraknya saja sudah tidak memungkinkan," tambahnya.

Namun bila memang benar fenomena ini terjadi, Amien menyarankan adanya penelitian ulang di kolam renang tersebut sebab hal ini dirasa cukup aneh menilik dari jarak pusat gempa yang cukup jauh.

Apalagi Amien juga mendengar kolam tersebut juga sempat memberi pertanda saat akan ada gempa di Aceh pada 2004 silam. Padahal, jarak Sidoarjo dan Aceh justru lebih jauh dari Sidoarjo dan Palu.

"Kalau kita sih ya kalau memang sungguhan ya harus dikaji, ya memang harus diteliti karena kan dia katanya memberitahu tahun 2004 (ada gempa) katanya begitu. Nah itu kan (jaraknya) yang di Aceh lebih jauh lagi," lanjut Amien. TNI AL pun berencana menurunkan tim untuk menyelidiki fenomena gelombang bak tsunami yang muncul di Kolam Renang Tirta Krida.

"Pangkodiklatal, Laksda TNI Darwanto memerintahkan stafnya untuk meneliti penyebabnya apa, karena kan terkait keselamatan, khususnya bagi pengguna kolam renang," kata Kabag Penerangan Kodiklatal, Letkol Laut (P) Khusus Agus Triawan.

Di samping itu, BMKG juga menyebut tidak ada gempa saat fenomena itu muncul. "Penyebabnya apa masih belum tahu, tapi berdasarkan dari press releasenya BMKG memang tak ada tanda-tanda fenomena gempa, itu menjadi PR kita mencari penyebabnya apa," tambah Agus.

Kendati demikian, Agus meminta masyarakat tidak resah dengan peredaran video kolam renang dan kaitannya dengan gempa atau tsunami.

"Yang penting masyarakat, kami mohon tetap tenang ya dan tidak terpengaruh dengan pemberitaan yang tersebar selama ini. Dari BMKG sudah ada rilis tidak ada gejala-gejala gempa," pungkasnya.




Loading...
Back To Top