Loading...
Loading...

$type=grid$m=0$show=home$count=5$author=hide$comment=hide$rm=hide$va=0$snip=none$meta=none

Netralitas Pemberitaan Media: Prabowo As* (Sepi) Vs Tampang Boyolali (Digoreng)

Gema Rakyat - Oleh: Hersubeno Arief
(Wartawan senior)

Mari kita lanjutkan perbincangan tentang kebebasan dan netralitas media. Mumpung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mempersoalkan pentingnya kebebasan media melakukan liputan. Bebas dari tekanan, bebas menentukan sudut pandang (angle) peliputan dan penulisan berita.

Dua kasus terbaru guyonan Prabowo tentang “tampang Boyolali” dan makian Bupati Boyolali Seno Samodro “Prabowo As*,” bisa memandu kita untuk memahami realitas yang disebut sebagai “Independen dan kebebasan media .”

Untuk menelaah dua kasus ini sebaiknya kita lepaskan bias sebagai pendukung Jokowi, atau pendukung Prabowo. Dengan begitu kita bisa menelaahnya dengan kepala dingin, tidak berpihak, tidak ada noise, dan bias kepentingan.

Dalam kasus “tampang Boyolali,” jika sepakat dengan namanya kebebasan pers, kita bisa memahami mengapa media-media arus utama (mainstream) menganggap berita ini penting dan layak dijadikan running issue, dalam bahasa yang lebih populer, namun dalam konotasi yang negatif disebut sebagai menggoreng.

Prabowo adalah public figure. Dia seorang capres yang akan berlaga pada Pilpres 2019. Jadi apapun ucapan dan tindakannya menarik untuk dijadikan berita. Mari kita ambil contoh detik.com. Media ini kita pilih karena jumlah pembacanya saat ini terbesar di Indonesia.

Jumat (2/11/2018) detik.com menggunggah berita “Viral Prabowo Bicara “Tampang Boyolali”. Dalam berita tersebut diungkap adanya potongan pidato Prabowo selama 20 Detik. “Saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?” kata Prabowo dalam video tersebut dan disambut jawaban “betul” dari hadirin acara.

“Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Kalian tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini,” lanjut Prabowo.

Tak lama setelah berita tersebut tayang, detik.com mewawancarai para nara sumber dari partai koalisi pendukung Jokowi-ma’ruf Amin. Mulai dari Golkar, PKB, PPP, dan tentu saja yang tidak pernah absen, Hanura, dan PSI. Politisi Golkar Ace Hasan Sadzili menilai Prabowo hanya bercanda, tapi tidak pas. Wasekjen PKB Daniel Johan juga berpendapat sama. Prabowo sedang bercanda, tapi kurang tepat. Namun Daniel mengajak publik untuk melihat ada pesan semangat yang dibawa Prabowo untuk kesejahteraan rakyat. Sama dengan Jokowi.

Wakil Sekjen PPP Achmad Baidlowi melihat hal itu sebagai kebiasaan Prabowo yang tidak bisa diubah. Politisi Hanura Inas Nasrullah melihatnya sebagai “gaya komunikasi politik Prabowo yang amburadul”. Bagaimana dengan PSI? Juru bicara PSI Dedek Prayudi mengingatkan hal itu termasuk body shaming, menjadikan kondisi tubuh orang lain sebagai bahan tertawaan. Detik.com juga menampilkan bantahan dari jubir Prabowo-Sandi Faldo Maldani.

Menariknya Detik.com juga memanfaatkan isu itu untuk menulis tentang siapa tokoh-tokoh besar yang berasal dan lahir di Boyolali. Media ini bahkan sampai menurunkan berita yang tidak ada hubungannya dengan isu tersebut, yakni kuliner dan tempat-tempat wisata di Boyolali.

Dapat disimpulkan detik.com mengganggap isu ini sangat menarik. Karena itu beritanya diturunkan berhari-hari. Sejumlah media lain seperti tribun.com juga melakukan hal yang sama.

Tidak diberitakan

Bagaimana dengan orasi Bupati Boyolali Seno Samodro yang memaki Prabowo As*?

Ternyata tidak ada satupun media arus besar termasuk detik.com yang menulis berita tersebut. Padahal orasi tersebut disampaikan saat menerima para pengunjukrasa yang memprotes pidato Prabowo.

Aksi unjukrasa warga bertajuk “Boyolali Bermatabat” itu diliput secara besar-besaran oleh media cetak, online, dan televisi. Agak aneh mereka bisa “luput” secara berjamaah mencermati orasi Seno.

Seharusnya sebagai wartawan ketika ada seorang pejabat publik, memaki seorang capres dengan kata-kata yang sangat kasar dan tak pantas, “As*, ” mereka menjadi “seekor hiu pemburu yang mencium bau darah,”  Apalagi pejabat publik itu berada di kubu lawan. Jelas ini akan menjadi skandal politik yang serius.

Naluri sebagai wartawan pasti langsung menangkapnya sebagai sebuah isu besar. Sangat besar malah. Sangat aneh bila mereka malah memutuskan untuk tidak memuatnya. Makian As* (anjixx) dalam bahasa Jawa levelnya sangat jauh di atas “Sontoloyo,” apalagi “tampang Boyolali.” Ini benar-benar sebuah penghinaan bagi orang Jawa yang penuh tata krama, sopan santun.

Mengapa ketika Prabowo guyon “tampang Boyolali,” menjadi sangat heboh, digoreng berhari-hari bahkan sampai membuat warga berunjukrasa? Sementara ketika Seno memaki As*, sama sekali tidak diberitakan. Apalagi digoreng?

Harusnya kalau menggunakan pakemnya detik.com, mereka mewawancarai semua jubir partai pendukung Prabowo. Kalau perlu buat artikel tentang berbagai jenis anjing. Termasuk jenis manakah yang dimaksud oleh Bupati Boyolali…he…..he….hue……hue…

“Tampang Boyolali” jelas guyon antar-keluarga. Sebab Prabowo bicara di depan pendukungnya sendiri. Mereka malah tertawa-tawa mendengar ucapan Prabowo. Kalau toh dianggap salah, itu hanya semacam terselip lidah (slip of tounge), tidak sensitif. Tapi jelas bukan kejahatan. Sebaliknya memaki orang lain dengan kata “as*” jelas merupakan sebuah ujaran kebencian. Ada kemarahan, niat jahat (mens rea).

Mengapa makian itu malah di-black out? Nasibnya sama dengan aksi unjukrasa Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) dan unjukrasa ribuan guru honorer di Istana. Beritanya hanya muncul di media-media online pinggiran dan medsos. Media mainstream baru bergerak memberitakannya setelah ada pelaporan ke Bareskrim Polri.

Apakah ini bentuk independensi, dan kebebasan, atau kalau mau sedikit gagah, ada semacam self censorship, ada kesadaran bahwa ucapan itu tidak layak, dan bisa berbahaya bila diungkap ke publik? Atau ada kepentingan lain?

Pertanyaan-pertanyaan penting itu harus bisa dijawab oleh media, dan tentu saja asosiasi wartawan seperti AJI, sebelum berteriak dengan gagah tentang pentingnya menjunjung tinggi sebuah kebebasan. Selain kebebasan, independen, berlaku adil, memberitakan secara seimbang adalah prinsip-prinsip dasar yang harus dijunjung tinggi seorang wartawan.

Tampaknya media di Indonesia telah memasuki sebuah situasi yang sangat menyedihkan. Kooptasi oleh penguasa membuat media bukan lagi sebagai watch dog,  penjaga demokrasi yang siap menggonggong ketika kekuasaan telah menyimpang. Media telah menjadi corong yang efektif bagi penguasa, dan alat menindas yang efektif bagi kelompok oposisi.

Seperti telah diingatkan oleh James dan Lance Morcan dalam bukunya yang sangat laris The Orphan Conspiracies: 29 Conspiracy Theories from The Orphan Trilogy, “It’s becoming obvious to most that mainstream media is nothing but a megaphone for the global elite to present biased news that’s designed to align the masses with their agenda.”

“Sangat jelas bagi kebanyakan orang bahwa media mainstream tidak lebih dari corong bagi elit (global) untuk menyajikan berita yang bias, yang dirancang untuk menyelaraskan massa dengan agenda mereka.”[portalislam]

Sumber: https://www.hersubenoarief.com/artikel/netralitas-media-prabowo-asx-anjixx-vs-tampang-boyolali/

Loading...
Loading...
Nama

#SaveTiangListrik,1,Aa Gym,4,Abraham Lunggana,1,Abraham Samad,1,Abu Janda Permadi,2,Ade Armando,1,Administrasi Kependudukan,1,Agama,7,Ahli Hadits,1,Ahmad Dhani,1,Ahmad Shabri Lubis,1,Ahok,10,Ahok-Djarot,9,Ahoker,5,Ahokers,3,Akhir Zaman,1,Aksi 1712,1,Aksi 212,2,Aksi 241,1,Aksi 2411,2,Aksi Bela Palestina,5,Aktivis 98,1,Alexi,1,Alexis,2,Alexis Group,2,Alumni 212,8,AM Fatwa,4,Amnesia,1,Anak Punk,1,Ananda Sukarlan,2,Andi Narogong,1,Anggaran,1,Anggota DPR,3,Anggota DPRD,1,Ani Yudhoyono,1,Anies Baswedan,22,Anies-Sandi,13,Anis Matta,1,Ansor,3,Anti Islam,1,APBD,1,Ari Wibowo,1,Arya Wedakarna,5,Aset BUMN,2,Aset DKI,1,Aset Negara,1,Audit,1,Aung San Suu Kyi,1,Bachtiar Nasir,3,Bactiar Nasir,1,Balai Kota,1,Bali,1,Bandar Lampung,1,Bandar Narkoba,1,Bandara Soetta,1,Bangsa,1,Banjir,5,Banser,8,Bareskrim,1,Bareskrim Polri,4,Belanda,1,Berita,84,Bibit Samad Rianto,1,Blogger Yahudi,1,Bobby Nasution,3,Bobby-Kahiyang,1,Boni Hargens,1,Bosnia,1,BPJS,2,BPK,2,Buku SD,1,BUMN,2,Bung Tomo,1,Buni Yani,1,Bupati Trenggalek,2,Bus TransJ,1,Cak Nun,1,California,1,Capt. Mona Shindy,1,China,3,Dai Papua,1,Dakwah,1,Dana Operasional,3,Dana Parpol,3,Debat Capres,1,Deddy Mizwar,2,Deisti Astriani Tagor,1,Den Haag,1,detik.com,2,Dewi Persik,2,Din Syamsuddin,1,Diskotek Diamond,1,Djarot,4,Dokter,2,Dokter Novanto,1,Donald Trump,1,Dosen UGM,1,Dosen UI,1,DPP PPP,1,DPR,5,DPRD,1,Driver Ojek Online,2,Dubes Palestina,2,e-KTP,14,Edy Rahmayadi,1,Emil Dardak,5,Emirsyah Satar,1,Era Ahok,4,Erdogan,2,Eva Kusuma Sundari,1,Fadjroel Rachman,1,Fadli Zon,3,Fahri Hamzah,6,Fahrihamzah,1,Fatmawati,1,Film,5,Film 212,1,Fortuner,2,Forum Badja,1,FPI,5,Fraksi PDIP,12,Fredrich Yunadi,9,Freidrich Yunadi,1,Front Pembela Islam,2,Ganjar Pranowo,2,Gempa,1,Gempa Bumi,1,Generasi Muda NU,1,Golkar,3,Golongan Listrik,2,GP Ansor,3,Gubernur DKI,2,Habib Rizieq Shihab,2,Habib Rizieq Syihab,2,Haedar Nashir,1,Hafiz AS Fatih,1,Haji Lulung,2,Hak Imunitas,1,Hakim Agung,1,Hakim Kusno,1,Halaqah Ulama Nasional,1,Hana Tajima,1,Hendrawan Supratikno,1,Hilman Mattauch,2,Hindu,1,Hotel Alexis,3,ICMI,1,ILC,1,Imunitas,2,Indonesia,3,Indosat,1,Infrastruktur,1,Inpres,1,Irwansyah,1,Islam,8,Islamophobia,1,Israel,4,Istana Negara,1,Jakarta,6,Jalur Busway,1,Jam,1,Jati Padang,1,Jatipadang,1,Jenderal Gatot,1,Jenderal Gatot Nurmantyo,2,Jepang,1,Jerusalem,1,Jimly Asshiddiqie,1,Joko Widodo,4,Joko Widodo-Jusuf Kalla,1,Jokower,1,Jokowi,20,Jokowi-JK,4,Justice League,1,Jusuf Kalla,2,Kader Ansor,1,Kader Golkar,3,Kader NasDem,3,Kadishub,1,Kahiyang Ayu,3,Kali Pulo,1,Kampus,2,Kang Emil,1,Kantor Polisi,1,Kapolri,1,Kapospol,1,Karaoke,1,Karni Ilyas,1,Karyawan MNC,1,Kaskus,1,Kasus e-KTP,14,Kebakaran,1,Kecelakaan,1,Kemenag RI,1,Kereta,1,Ketua DPR,1,Ketum Ansor,3,KH Luthfi Bashori,1,KH Said Aqil,3,KKB,1,Konflik,1,Kopassus,1,Korporasi Swasta,1,Korupsi e-KTP,15,Kostrad,1,KPK,31,KPU,1,Kriminial,1,Kristen,1,KRL,1,KSAU,1,KTP,9,Kudeta,1,kumparan.com,1,Lagu Indonesia Raya,1,Langgar UU,1,Lapas,1,Laskar FPI,2,Lembaga Sensor Film,1,Lembaga Survei Indonesia,1,LGBT,3,Listrik,4,LSI,1,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Syaifuddin,2,Mabes Polri,1,Macet,1,Mahasiswa,2,Maher Zain,1,Mahfud MD,4,Mahkamah Konstitusi,1,Maia Estianty,1,Majelis Ulama Indonesia,1,MAKI,1,Marissa Haque,1,Masjid Assakinah,1,Masjid Nabawi,1,Masyarakat,1,Mayjen Sudrajat,1,Media,1,Meikarta,1,Menista Islam,5,Menkes,1,Menko Kemaritiman,1,Menteri Agama,2,Menteri Dalam Negeri,1,Menteri Kesehatan,1,Mesir,2,Metro TV,8,MetroTV,3,MK,3,MKD,1,Monas,3,Motor,1,Muhammadiyah,1,MUI,3,Muslim,1,Muslim Amerika,1,Nabi Nuh,1,Narkoba,2,Natal,1,Natalius Pigai,2,NATO,2,Naura & Genk Juara,1,Naura dan Genk Juara,2,Nazaruddin,1,Netizen,6,New York,2,Nila F Moeloek,1,NKRI,4,Noor Yasin,2,Novanto,1,Novel Baswedan,2,Nusron Wahid,1,OKI,1,Ombudsman,1,OPM,3,Ormas Islam,1,Pakar Hukum,1,Pakar Pidana,1,Palestina,9,PAN,5,Pancasila,1,Pangkostrad,1,Panglima Militer,1,Panglima TNI,5,Papua,4,Parpol,1,Partai,1,Partai Amanat Nasional,1,Partai Demokrat,2,Partai Gerindra,6,Partai Golkar,4,Partai Keadilan Sejahtera,1,Partai Nasdem,3,Pasar Minggu,1,Pasukan Oranye,1,Paul,1,PBNU,2,PCNU,3,PDI Perjuangan,4,PDI-P,3,PDIP,18,Pelanggar Lalu Lintas,1,Pelecehan Seksual,1,Pelindo II,1,Pemerintahan Jokowi,7,Pemilu 2019,1,Pemotor,1,Pemprov DKI,2,Pemprov DKI Jakarta,4,Pemuda Aswaja,1,Pendeta,1,Pendidikan Islam,1,Pendukung Jokowi,2,Penerima Hibah,1,Pengacara,2,Pengacara Novanto,6,Pengadilan,2,Pengertian,1,Pengguna Motor,2,Pengusaha,1,Penista Agama,1,Perda,1,Perpecahan Bangsa,1,Persekusi,5,Pertamax,1,Pertamina,1,Perwira TNI,1,Petisi,1,Petugas TransJakarta,1,Pilgub Jabar,3,Pilgub Jabar 2018,2,Pilkada Sumatera Utara,1,Pilpres,1,Pilpres 2014,1,Pilpres 2019,3,PKS,5,PLN,1,Polda Bali,3,Polda Jatim,1,Polda Metro Jaya,1,Polisi,11,Politik,1,Politikus PDIP,13,Polling,1,Polri,1,Portal Islam,5,PPP,2,Prabowo Subianto,4,Praperadilan,1,Presiden Jokowi,13,Propaganda,1,Propam Polri,1,Provokasi,1,Proyek Infrastruktur,1,PUSHAMI,2,Putri Gus Dur,1,Putusan Pengadilan,1,Rabbani,1,Radikal,1,Raisa Adriana,1,Raja Bali,1,RAPBD,1,Reklamasi,5,Remaja,1,republikin.com,1,Reuni 212,7,Rezim Jokowi,5,Ria Ricis,1,Rina Nose,8,Riza Patria,1,Rizal Ramli,1,Rizieq Syihab,1,RJ Lino,2,rmol.co,1,Rocky Gerung,1,Rohingya,1,RSCM,2,Rusia,1,Sam Aliano,1,Sandera OPM,1,Sandiaga Uno,10,Saudi,1,SBY,1,Setnov,6,Setya Novanto,52,Sharla,1,Sharla Martiza,1,Sholawat,1,Simbol Islam,2,Simulasi Antiteror,2,Solo,1,SPDP,1,Sri Kaget,1,Starbucks,1,Stop Film Anak,1,suara nasional,1,Sudirman Said,2,Sudrajat,1,Sumber Waras,2,Surabaya,1,Surya Paloh,1,Sutiyoso,1,Swasta,1,Tablig Akbar,1,Tabligh Akbar,4,Tanah Abang,2,Tausiyah Kebangsaan,1,Tentara Israel,2,Teroris,3,Tersangka,1,The Fly,1,Tiang Listrik,1,Tim Anies Sandi,1,Tim Gubernur,2,Tjahjo Kumolo,1,TNI,1,Tokoh Papua,1,Tompi,1,TPN-OPM,1,TransJakarta,1,Tri Rismaharini,1,Turki,1,Ulama,1,Ulama Nasional,1,Umat Islam,4,Universitas,1,Universitas Asing,1,Ust. Bachtiar Nasir,2,Ust. Felix Siauw,4,Ustad Abdul Somad,5,Ustadz Abdul Somad,19,Ustadz Adi Hidayat,1,Ustadz Bachtiar Nasir,2,Ustadz Fadzlan Gamaratan,1,Ustadz Somad,2,Ustaz Abdul Somad,2,Ustaz Somad,3,Utang Luar Negeri,1,UU TPPU,1,vape,1,Victor Laiskodat,2,Victor Layskodat,1,Viktor Laeskodat,1,Viktor Laiskodat,6,Wali Kota Surabaya,1,Wapres JK,1,Warganet,3,Warkop DKI,1,Wartawan,2,Wasekjen PPP,1,Wiranto,2,Yandri Susanto,1,Yasonna,1,Yenny Wahid,1,Yerusalem,3,Yerusalem Timur,2,YLKI,2,Zainudin MZ,1,Zeng Wei Jian,1,Zimbabwe,2,Zulkifli Hasan,1,
ltr
item
Portal Islam Berita Terkini: Netralitas Pemberitaan Media: Prabowo As* (Sepi) Vs Tampang Boyolali (Digoreng)
Netralitas Pemberitaan Media: Prabowo As* (Sepi) Vs Tampang Boyolali (Digoreng)
Mari kita lanjutkan perbincangan tentang kebebasan dan netralitas media. Mumpung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mempersoalkan pentingnya kebebasan media melakukan liputan. Bebas dari tekanan, bebas menentukan sudut pandang (angle) peliputan dan penulisan berita.
https://3.bp.blogspot.com/-nFdibe-2caY/W-I8cZHWTjI/AAAAAAAAPek/O-6hrQ3UAHQKv4zI9bhtezFZd-G25T4lQCLcBGAs/s640/Screenshot_3.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-nFdibe-2caY/W-I8cZHWTjI/AAAAAAAAPek/O-6hrQ3UAHQKv4zI9bhtezFZd-G25T4lQCLcBGAs/s72-c/Screenshot_3.jpg
Portal Islam Berita Terkini
https://www.gemarakyat.net/2018/11/netralitas-pemberitaan-media-prabowo-as.html
https://www.gemarakyat.net/
https://www.gemarakyat.net/
https://www.gemarakyat.net/2018/11/netralitas-pemberitaan-media-prabowo-as.html
true
7866857867655626264
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy