Loading...
Loading...

$type=grid$m=0$show=home$count=5$author=hide$comment=hide$rm=hide$va=0$snip=none$meta=none

Fenomena Baru di Aceh, Ramai-ramai Bikin Paspor untuk Pergi ke Jakarta


Gema Rakyat - Sebuah fenomena baru melanda orang-orang Aceh yang ingin bepergian ke Jakarta dengan pesawat.

Informasi dihimpun Serambinews.com, sejak beberapa hari lalu, warga Aceh ramai-ramai membuat paspor hanya karena ingin ke Jakarta.

Pasalnya, sebagian besar warga Aceh, terutama yang menggunakan uang pribadi, kini memilih berangkat ke Jakarta melalui Kuala Lumpur Malaysia.

Amatan Serambinews.com, fenomena baru ini mulai menghebohkan media sosial sejak seminggu terakhir.

Warganet ramai-ramai memosting perbandingan harga tiket antara penerbangan domestik (Banda Aceh – Medan - Jakarta atau Banda Aceh langsung ke Jakarta), dengan penerbangan melalui jalur internasional (Banda Aceh – Kuala Lumpur – Jakarta).

Tampak perbedaan mencolok antara keduanya.

Harga tiket domestik Banda Aceh – Jakarta mencapai Rp 3 juta, sementara harga tiket Banda Aceh – Jakarta via Kuala Lumpur, tidak sampai Rp 1 juta.

Berikut di antara warga Aceh yang memosting pengalamannya pergi ke Jakarta via Kuala Lumpur.

[next]

"Bahagian kepiluan sumbangan Nyak Sandang Cs," tulis Jamaluddin M Jamil, mantan Ketua KNPI Aceh, dalam status yang menyertai tiga fotonya saat berada di Bandara Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA) sebagaimana dikutip tribun.

Nyak Sandang yang dimaksud oleh Jamaluddin adalah salah satu penyumbang uang untuk membeli pesawat Seulawah RI 001 Seulawah yang merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia.

Melalui statusnya, Jamaluddin menyindir harga tiket pesawat Garuda Indonesia dari dan ke Aceh yang sangat mahal, sehingga warga Aceh banyak yang memilih penerbangan via Kuala Lumpur dengan maskapai Air Asia.
Anggota DPR Aceh, Asrizal H Asnawi, ikut memosting status satire (sindiran) tentang fenomena baru yang terjadi di Aceh, sebagai dampak mahalnya harga tiket penerbangan domestik.

"Orang Aceh ke Jakarta pakai pasport, semoga orang Jakarta yg mau ke Aceh juga pakai pasport.

Jelas sudah posisi kita," tulis Wakil Ketua Komisi IV DPRA ini, dalam status Facebooknya yang kemudian mengundang berbagai tanggapan warganet.

Ramai-ramai Bikin Paspor

Safaruddin SH, Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) adalah salah satu warga yang ikut membikin paspor baru bagi anak-anaknya.

“Saya harus bikin paspor untuk empat orang, 3 anak dan seorang keluarga lain, padahal saya ingin pergi ke Malang yang masih dalam wilayah Indonesia,” kata Safaruddin kepada Serambinews.com, Jumat (11/1/2019).

Safaruddin mengatakan, mahalnya harga tiket penerbangan domestik, membuat dirinya harus memilih jalur penerbangan internasional untuk mencapai Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan hasil pengecekan di situs penjualan tiket, kata Safaruddin, jika menempuh penerbangan domestik dengan maskapai Garuda Indonesia, perlu uang sebesar Rp 4 juta lebih per orang untuk tiket Banda Aceh - Jakarta - Malang.

Jadi, untuk enam orang, Safaruddin harus mengeluarkan uang sebesar Rp 24 juta.

Sementara melalui jalur Banda Aceh - Kuala Lumpur - Surabaya dengan maskapai Air Asia, harga tiketnya adalah Rp 950.000 per orang.

[next]

Maka, untuk 6 orang, Safaruddin hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 5.700.000.

Harga tiket tersebut, kata Safaruddin, sudah dia booking untuk penerbangan bulan Februari 2019.

“Saya bisa menghemat hampir 20 juta Rupiah. Dipotong untuk biaya pembuatan empat paspor sebesar Rp 1.420.000 (Rp 355 ribu per paspor), lalu potong lagi untuk ongkos bus dari Surabaya ke Malang sekitar 500 ribu, saya masih bisa menghemat sebesar 18 juta Rupiah,” kata pemegang kartu GarudaMiles Platinum bernomor 725 054 116 ini.

Paspor ini dibutuhkan karena perjalanan ke Malang harus dilakukan melalui pintu keberangkatan internasional.

Jika tidak memilih Garuda Indonesia, atau pilih penerbangan domestik lainnya selain Garuda, harga tiket dari Banda Aceh ke Malang juga berkisar antara Rp 3 juta per orang.

Safaruddin pun mengimbau masyarakat Aceh yang ingin ke Jakarta atau daerah-daerah lain di Pulau Jawa agar memilih jalur Kuala Lumpur.

“Lebih bagus lagi kalau meginap selama satu malam di Kuala Lumpur, bisa jalan-jalan dan belanja di sana,” ujar Safaruddin seraya menyatakan kekesalannya terhadap “kebijakan pemerintah yang sangat tidak prorakyat.”

“Bukannya memberikan layanan khusus kepada rakyat Aceh yang telah menyumbang nenek moyangnya dahulu, Garuda Indonesia malah mencekik masyarakat Aceh. Padahal banyak obligasi milik rakyat Aceh yang belum mereka bayar dengan berbagai alasan,” tukas Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) ini.

[next]

Terpaksa Beli Tiket Mahal

Nasib tak mengenakkan dialami sejumlah mahasiswa asal Aceh yang sedang menuntut ilmu di Pulau Jawa.

Beberapa dari mereka terpaksa membeli tiket mahal, karena tidak punya paspor.

Ada yang punya paspor, tapi tetap tidak memilih jalur Jakarta - Kuala Lumpur - Aceh, karena alasan kesetiakawanan terhadap teman-temannya yang tidak memiliki paspor.

“Karena alasan setia kawan ini, saya terpaksa harus membeli tiket Garuda Indonesia untuk anak saya yang akan pulang ke Aceh pada Senin 21 Januari 2019,” ungkap Bukhari M Ali, warga Jeulingke kepada Serambinews.com, Jumat (11/1/2018).

“Nanti saat kembali ke Jakarta, anak saya dan teman-temannya sudah sepakat untuk memilih jalur via Kuala Lumpur. Teman-teman dia akan bikin paspor saat di Aceh nanti,” imbuh Bukhari.

Sebelumnya, seorang warga Banda Aceh, Boy, kepada Serambi, Kamis (10/1/2019) menyatakan lebih memilih transit di Kuala Lumpur terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya ke Jakarta.



“Saya sudah pesan tiket untuk keberangkatan dari Banda Aceh ke Jakarta dengan transit di Kuala Lumpur. Untuk rute ini ternyata lebih murah dibandingkan langsung ke Jakarta yang harga tiketnya hampir 3 juta rupiah per orang. Apabila kita transit di Kuala Lumpur harga tiketnya justru di bawah 1 juta rupiah per orang,” ujar Boy membanding.

Boy mengaku, kenaikan harga tiket penerbangan domestik kali ini terasa sangat berat, apalagi untuk perjalanan pribadi.

Bagi pebisnis seperti Boy yang sering bolak-balik Banda Aceh-Jakarta kenaikan harga tiket pesawat kali ini ia pantas keluhkan.

“Kalau mau ke Jakarta sekarang dari Banda Aceh benar-benar berat di ongkos jadinya,” kata Boy.

Banda Aceh – KL - Padang

Tak hanya yang ingin ke Pulau Jawa, warga Banda Aceh yang ingin ke Padang Sumatera Barat, juga memilih menempuh jalur via Kuala Lumpur.

Padahal Padang dan Aceh sama-sama berada di Pulau Sumatera, dan hanya terpisah oleh satu provinsi, yaitu Sumatera Utara.

Adalah Dr M Adli Abdullah MCL, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala ini, yang mengungkapkan sering pergi ke Padang melalui Kuala Lumpur.

Adli mengatakan, dia kerap menjenguk anaknya yang kuliah di Uiversitas Andalas Padang.

“Sekarang, kalau mau pergi ke seluruh Indonesia lebih murah naik AirAsia dan kita transit via Kuala Lumpur. Anak saya ada yang kuliah di Universitas Andalas. Nah, kalau saya mau ke Padang dari Aceh, dulu jalurnya adalah Banda Aceh-Kuala Namu-Bandara Padang. Tapi sekarang, jalur Banda Aceh-Kuala Lumpur-Padang jauh lebih murah,” ujarny.

Adli pun membanding, Banda Aceh-Padang naik AirAsia via Kuala Lumpur ongkosnya hanya Rp 826.000. Sedangkan Padang-Medan saja naik Lion Air tiketnya Rp 1.464.000. Belum lagi ongkos Banda Aceh-Medan.

“Nah, kalau naik Garuda dari Banda Aceh ke Padang via Jakarta tiketnya malah 4.364.700 rupiah. Ini yang membuat saya atau istri lebih memilih via Kuala Lumpur kalau ingin ke Padang. Faktanya, lebih murah ke negara orang,” sebut Adli.

Data dihimpun Serambinews.com dari curhatan warga di media sosial, kenaikan harga tiket ini “gila-gilaan”.

[next]

Garuda dari biasanya Rp 1,4 juta sekarang Rp 2,9 juta. Batik juga dari Rp 1,1 juta sekarang Rp 2,5 juta.

Kenaikan harga ini juga membuatnya untuk beralih penerbangan dari Banda Aceh transit Kuala Lumpur, selanjutnya ke Jakarta.

Warga Aceh berharap kenaikan harga tiket untuk penerbangan domestik hendaknya segera ditinjau oleh Menteri Perhubungan dan diturunkan kembali.

“Tadi sempat saya cek di Traveloka, ternyata keberangkatan 17 Januari 2019 dari Banda Aceh ke Jakarta harganya hampir 3 jutaan rupiah. Saya merasa berat atas kenaikan harga ini, semoga secepatnya ada penurunan,” kata Suryadi.

Harga Tiket Domestik

Penelusuran Serambi di Traveloka dengan mengambil beberapa tanggal secara acak, terbaca bahwa harga tiket keberangkatan 21 Januari 2019 dari Banda Aceh ke Jakarta naik Garuda Rp 2.962.700/orang.

Tiket Batik Air Banda Aceh-Jakarta Rp 2.559.000/orang.

Citilink transit di Kualanamu Rp 1.998.000/orang.

Lion transit di Kualanamu Rp 1.888.000- Rp 2.212.000/orang.

Sementara penerbangan AirAsia dari Banda Aceh ke Jakarta via Kuala Lumpur hanya Rp 879.700/orang.

Sementara pada tanggal 13 Februari 2019, harga tiket Garuda dari Banda Aceh ke Jakarta Rp 2.962.700/orang.

Batik Air dari Banda Aceh Rp 2.559.000/orang.

Citilink transit Kualanamu Rp 1.998.000/orang.

Lion transit Kualanamu Rp 1.888.000- Rp 2.212.000/orang.

Sedangkan Air Asia transit ke Kuala Lumpur harga tiketnya mulai Rp 716.700/orang.

Penerbangan naik Garuda dari Jakarta ke Banda Aceh pada 20 Maret 2019 mencapai Rp 3.057.700/orang.

Batik Air Banda Aceh-Jakarta Rp 2.609.000/orang.

Citilink transit Kualanamu Rp 2.013.000/orang.

Lion transit Kualanamu mulai Rp 1.918.000- Rp 2.242.000/orang.

Sedangkan transit naik AirAsia ke Kuala Lumpur, harga tiketnya hanya Rp 693.700/orang.

BBM dari Minyak Wangi

Mahalnya harga tiket penerbangan domestik dari dan ke Aceh ini membuat sejumlah pihak meradang.

Lukman Age, Bendahara DPP Partai Nanggroe Aceh, menulis status di Facebooknya tentang tiket pesawat domestik yang kenaikan harganya gila-gilaan dalam sepekan terakhir.

“Masih tentang tiket pesawat, Banda Aceh (BTJ) ke Perth, Australia, via Kuala Lumpur hanya Rp 1.665.000. Sedangkan Banda Aceh ke Jakarta paling murah Rp 2.205.000. Mungkin pesawat di Indonesia BBM-nya pakai minyak wangi, maka mahal tiketnya,” tulis Lukman.

Status Lukman tersebut menuai komentar para netizen.

Bahkan ada yang bercanda sebaiknya Aceh menjadi bagian Malaysia saja, karena harga tiket AirAsia dari Aceh ke Malaysia sangat murah, seperti lazimnya harga tiket pesawat domestik.

[next]

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Prof Dr Ahmad Humam Hamid MA mengutip informasi yang dia peroleh dari temannya yang bekerja di imigrasi.

Bahwa 80 persen penumpang AirAsia dari Indonesia setiba di Kuala Lumpur melanjutkan penerbangannya ke Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Itu karena harganya lebih murah.

“Jangan sampai nanti kebijakan ini membuat orang berpikir dua kali untuk tetap ‘menjadi’ orang Indonesia,” kata sosiolog lulusan Kansas University, Amerika Serikat yang doyan traveling ini.

Apa yang disampaikan Humam, senada dengan yang diutarakan pihak travel di Banda Aceh.

Bahwa belakangan ini semakin banyak penumpang yang memilih terbang dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur lebih dahulu sebelum ke Jakarta atau sebaliknya, karena harga tiketnya lebih murah.

“Bagi yang berangkat pribadi, pastilah ia akan mencari alternatif yang murah. Artinya, dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur kemudian lanjut lagi ke Jakarta itu lebih murah, bisa dapat satu jutaan rupiah. Cuma masalahnya transit di Kuala Lumpur dua sampai empat jam, dan menggunakan paspor,” sebut pihak travel yang tak ingin namanya ditulis.

Ia juga mengatakan, saat ini sebetulnya harga tiket pesawat diberlakukan harga normal.

Sebab masyarakat sedang menghadapi liburan, tahun baru, dan hari-hari besar keagamaan sehingga dari tahun ke tahun harga yang diberlakukan merupakan harga normal.

“Setelah tahun baru dan liburan keberangkatan tak lagi ramai maka harga tiket turun lagi,” ungkapnya.

Ia tambahkan, di Garuda dan Lion Air ada kelas 1, 2, 3, 4, dan 5. Nah, apabila di kelas itu penumpangnya kosong maka turun ke harga bawah.

Apabila nanti seat penuh dengan harga promo maka dalam satu hari disediakan 50 seat.

Apabila pada hari itu jumlah seat tersebut habis maka harganya itu di atas promo.

“Harga tiket ditentukan semua dari pusat, jadi kita hanya menjualnya saja,” katanya mengakhiri.

[portalbersama]

COMMENTS

Loading...
Loading...
Nama

#SaveTiangListrik,1,Aa Gym,4,Abraham Lunggana,1,Abraham Samad,1,Abu Janda Permadi,2,Ade Armando,1,Administrasi Kependudukan,1,Agama,7,Ahli Hadits,1,Ahmad Dhani,1,Ahmad Shabri Lubis,1,Ahok,10,Ahok-Djarot,9,Ahoker,5,Ahokers,3,Akhir Zaman,1,Aksi 1712,1,Aksi 212,2,Aksi 241,1,Aksi 2411,2,Aksi Bela Palestina,5,Aktivis 98,1,Alexi,1,Alexis,2,Alexis Group,2,Alumni 212,8,AM Fatwa,4,Amnesia,1,Anak Punk,1,Ananda Sukarlan,2,Andi Narogong,1,Anggaran,1,Anggota DPR,3,Anggota DPRD,1,Ani Yudhoyono,1,Anies Baswedan,22,Anies-Sandi,13,Anis Matta,1,Ansor,3,Anti Islam,1,APBD,1,Ari Wibowo,1,Arya Wedakarna,5,Aset BUMN,2,Aset DKI,1,Aset Negara,1,Audit,1,Aung San Suu Kyi,1,Bachtiar Nasir,3,Bactiar Nasir,1,Balai Kota,1,Bali,1,Bandar Lampung,1,Bandar Narkoba,1,Bandara Soetta,1,Bangsa,1,Banjir,5,Banser,8,Bareskrim,1,Bareskrim Polri,4,Belanda,1,Berita,84,Bibit Samad Rianto,1,Blogger Yahudi,1,Bobby Nasution,3,Bobby-Kahiyang,1,Boni Hargens,1,Bosnia,1,BPJS,2,BPK,2,Buku SD,1,BUMN,2,Bung Tomo,1,Buni Yani,1,Bupati Trenggalek,2,Bus TransJ,1,Cak Nun,1,California,1,Capt. Mona Shindy,1,China,3,Dai Papua,1,Dakwah,1,Dana Operasional,3,Dana Parpol,3,Debat Capres,1,Deddy Mizwar,2,Deisti Astriani Tagor,1,Den Haag,1,detik.com,2,Dewi Persik,2,Din Syamsuddin,1,Diskotek Diamond,1,Djarot,4,Dokter,2,Dokter Novanto,1,Donald Trump,1,Dosen UGM,1,Dosen UI,1,DPP PPP,1,DPR,5,DPRD,1,Driver Ojek Online,2,Dubes Palestina,2,e-KTP,14,Edy Rahmayadi,1,Emil Dardak,5,Emirsyah Satar,1,Era Ahok,4,Erdogan,2,Eva Kusuma Sundari,1,Fadjroel Rachman,1,Fadli Zon,3,Fahri Hamzah,6,Fahrihamzah,1,Fatmawati,1,Film,5,Film 212,1,Fortuner,2,Forum Badja,1,FPI,5,Fraksi PDIP,12,Fredrich Yunadi,9,Freidrich Yunadi,1,Front Pembela Islam,2,Ganjar Pranowo,2,Gempa,1,Gempa Bumi,1,Generasi Muda NU,1,Golkar,3,Golongan Listrik,2,GP Ansor,3,Gubernur DKI,2,Habib Rizieq Shihab,2,Habib Rizieq Syihab,2,Haedar Nashir,1,Hafiz AS Fatih,1,Haji Lulung,2,Hak Imunitas,1,Hakim Agung,1,Hakim Kusno,1,Halaqah Ulama Nasional,1,Hana Tajima,1,Hendrawan Supratikno,1,Hilman Mattauch,2,Hindu,1,Hotel Alexis,3,ICMI,1,ILC,1,Imunitas,2,Indonesia,3,Indosat,1,Infrastruktur,1,Inpres,1,Irwansyah,1,Islam,8,Islamophobia,1,Israel,4,Istana Negara,1,Jakarta,6,Jalur Busway,1,Jam,1,Jati Padang,1,Jatipadang,1,Jenderal Gatot,1,Jenderal Gatot Nurmantyo,2,Jepang,1,Jerusalem,1,Jimly Asshiddiqie,1,Joko Widodo,4,Joko Widodo-Jusuf Kalla,1,Jokower,1,Jokowi,20,Jokowi-JK,4,Justice League,1,Jusuf Kalla,2,Kader Ansor,1,Kader Golkar,3,Kader NasDem,3,Kadishub,1,Kahiyang Ayu,3,Kali Pulo,1,Kampus,2,Kang Emil,1,Kantor Polisi,1,Kapolri,1,Kapospol,1,Karaoke,1,Karni Ilyas,1,Karyawan MNC,1,Kaskus,1,Kasus e-KTP,14,Kebakaran,1,Kecelakaan,1,Kemenag RI,1,Kereta,1,Ketua DPR,1,Ketum Ansor,3,KH Luthfi Bashori,1,KH Said Aqil,3,KKB,1,Konflik,1,Kopassus,1,Korporasi Swasta,1,Korupsi e-KTP,15,Kostrad,1,KPK,31,KPU,1,Kriminial,1,Kristen,1,KRL,1,KSAU,1,KTP,9,Kudeta,1,kumparan.com,1,Lagu Indonesia Raya,1,Langgar UU,1,Lapas,1,Laskar FPI,2,Lembaga Sensor Film,1,Lembaga Survei Indonesia,1,LGBT,3,Listrik,4,LSI,1,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Syaifuddin,2,Mabes Polri,1,Macet,1,Mahasiswa,2,Maher Zain,1,Mahfud MD,4,Mahkamah Konstitusi,1,Maia Estianty,1,Majelis Ulama Indonesia,1,MAKI,1,Marissa Haque,1,Masjid Assakinah,1,Masjid Nabawi,1,Masyarakat,1,Mayjen Sudrajat,1,Media,1,Meikarta,1,Menista Islam,5,Menkes,1,Menko Kemaritiman,1,Menteri Agama,2,Menteri Dalam Negeri,1,Menteri Kesehatan,1,Mesir,2,Metro TV,8,MetroTV,3,MK,3,MKD,1,Monas,3,Motor,1,Muhammadiyah,1,MUI,3,Muslim,1,Muslim Amerika,1,Nabi Nuh,1,Narkoba,2,Natal,1,Natalius Pigai,2,NATO,2,Naura & Genk Juara,1,Naura dan Genk Juara,2,Nazaruddin,1,Netizen,6,New York,2,Nila F Moeloek,1,NKRI,4,Noor Yasin,2,Novanto,1,Novel Baswedan,2,Nusron Wahid,1,OKI,1,Ombudsman,1,OPM,3,Ormas Islam,1,Pakar Hukum,1,Pakar Pidana,1,Palestina,9,PAN,5,Pancasila,1,Pangkostrad,1,Panglima Militer,1,Panglima TNI,5,Papua,4,Parpol,1,Partai,1,Partai Amanat Nasional,1,Partai Demokrat,2,Partai Gerindra,6,Partai Golkar,4,Partai Keadilan Sejahtera,1,Partai Nasdem,3,Pasar Minggu,1,Pasukan Oranye,1,Paul,1,PBNU,2,PCNU,3,PDI Perjuangan,4,PDI-P,3,PDIP,18,Pelanggar Lalu Lintas,1,Pelecehan Seksual,1,Pelindo II,1,Pemerintahan Jokowi,7,Pemilu 2019,1,Pemotor,1,Pemprov DKI,2,Pemprov DKI Jakarta,4,Pemuda Aswaja,1,Pendeta,1,Pendidikan Islam,1,Pendukung Jokowi,2,Penerima Hibah,1,Pengacara,2,Pengacara Novanto,6,Pengadilan,2,Pengertian,1,Pengguna Motor,2,Pengusaha,1,Penista Agama,1,Perda,1,Perpecahan Bangsa,1,Persekusi,5,Pertamax,1,Pertamina,1,Perwira TNI,1,Petisi,1,Petugas TransJakarta,1,Pilgub Jabar,3,Pilgub Jabar 2018,2,Pilkada Sumatera Utara,1,Pilpres,1,Pilpres 2014,1,Pilpres 2019,3,PKS,5,PLN,1,Polda Bali,3,Polda Jatim,1,Polda Metro Jaya,1,Polisi,11,Politik,1,Politikus PDIP,13,Polling,1,Polri,1,Portal Islam,5,PPP,2,Prabowo Subianto,4,Praperadilan,1,Presiden Jokowi,13,Propaganda,1,Propam Polri,1,Provokasi,1,Proyek Infrastruktur,1,PUSHAMI,2,Putri Gus Dur,1,Putusan Pengadilan,1,Rabbani,1,Radikal,1,Raisa Adriana,1,Raja Bali,1,RAPBD,1,Reklamasi,5,Remaja,1,republikin.com,1,Reuni 212,7,Rezim Jokowi,5,Ria Ricis,1,Rina Nose,8,Riza Patria,1,Rizal Ramli,1,Rizieq Syihab,1,RJ Lino,2,rmol.co,1,Rocky Gerung,1,Rohingya,1,RSCM,2,Rusia,1,Sam Aliano,1,Sandera OPM,1,Sandiaga Uno,10,Saudi,1,SBY,1,Setnov,6,Setya Novanto,52,Sharla,1,Sharla Martiza,1,Sholawat,1,Simbol Islam,2,Simulasi Antiteror,2,Solo,1,SPDP,1,Sri Kaget,1,Starbucks,1,Stop Film Anak,1,suara nasional,1,Sudirman Said,2,Sudrajat,1,Sumber Waras,2,Surabaya,1,Surya Paloh,1,Sutiyoso,1,Swasta,1,Tablig Akbar,1,Tabligh Akbar,4,Tanah Abang,2,Tausiyah Kebangsaan,1,Tentara Israel,2,Teroris,3,Tersangka,1,The Fly,1,Tiang Listrik,1,Tim Anies Sandi,1,Tim Gubernur,2,Tjahjo Kumolo,1,TNI,1,Tokoh Papua,1,Tompi,1,TPN-OPM,1,TransJakarta,1,Tri Rismaharini,1,Turki,1,Ulama,1,Ulama Nasional,1,Umat Islam,4,Universitas,1,Universitas Asing,1,Ust. Bachtiar Nasir,2,Ust. Felix Siauw,4,Ustad Abdul Somad,5,Ustadz Abdul Somad,19,Ustadz Adi Hidayat,1,Ustadz Bachtiar Nasir,2,Ustadz Fadzlan Gamaratan,1,Ustadz Somad,2,Ustaz Abdul Somad,2,Ustaz Somad,3,Utang Luar Negeri,1,UU TPPU,1,vape,1,Victor Laiskodat,2,Victor Layskodat,1,Viktor Laeskodat,1,Viktor Laiskodat,6,Wali Kota Surabaya,1,Wapres JK,1,Warganet,3,Warkop DKI,1,Wartawan,2,Wasekjen PPP,1,Wiranto,2,Yandri Susanto,1,Yasonna,1,Yenny Wahid,1,Yerusalem,3,Yerusalem Timur,2,YLKI,2,Zainudin MZ,1,Zeng Wei Jian,1,Zimbabwe,2,Zulkifli Hasan,1,
ltr
item
Portal Islam Berita Terkini: Fenomena Baru di Aceh, Ramai-ramai Bikin Paspor untuk Pergi ke Jakarta
Fenomena Baru di Aceh, Ramai-ramai Bikin Paspor untuk Pergi ke Jakarta
Sebuah fenomena baru melanda orang-orang Aceh yang ingin bepergian ke Jakarta dengan pesawat.
https://1.bp.blogspot.com/-XU1L-BapxuI/XDmU5YK16JI/AAAAAAAAIlY/-iIJsaaEYUwJKCY5_BEgqEZy4ekQCirOQCLcBGAs/s640/ke-jakarta-via-kuala-lumpur.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-XU1L-BapxuI/XDmU5YK16JI/AAAAAAAAIlY/-iIJsaaEYUwJKCY5_BEgqEZy4ekQCirOQCLcBGAs/s72-c/ke-jakarta-via-kuala-lumpur.jpg
Portal Islam Berita Terkini
https://www.gemarakyat.net/2019/01/fenomena-baru-di-aceh-ramai-ramai-bikin.html
https://www.gemarakyat.net/
https://www.gemarakyat.net/
https://www.gemarakyat.net/2019/01/fenomena-baru-di-aceh-ramai-ramai-bikin.html
true
7866857867655626264
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy