Loading...
Loading...

$type=grid$m=0$show=home$count=5$author=hide$comment=hide$rm=hide$va=0$snip=none$meta=none

Pakar Media Sosial: Kubu Prabowo Lebih Kuat dari Segi Kekuatan Real User



Gema Rakyat - Serupa dengan Pemilihan Presiden 2014, media sosial menjadi arena pertarungan bagi kedua pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019.

Tiap kubu punya bala tentara siber masing-masing. Isinya bukan cuma manusia, robot juga ikut tempur. Selain mempromosikan kelayakan dan prestasi diri sendiri, menyerang kubu lawan juga menjadi salah satu strategi.

Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit—mesin untuk menganalisis media sosial—mengamati dan menganalisis pertempuran kubu Prabowo dan Jokowi di media sosial. Berikut petikan wawancara Wan Ulfa Nur Zuhra dengan Ismail Fahmi soal strategi kedua capres yang tampak di media sosial seperti dikutip dari Tirto.

Seperti apa pertarungan kedua kubu di media sosial pada Pilpres kali ini?

Desember lalu, aku bikin analisis, membandingkan kata kunci “Jokowi” dan “Prabowo” di media sosial. Kami membandingkan cyber troop-nya kayak apa. Dari situ ketahuan kira-kira strategi kontennya kayak apa.

Kalau pemberitaan, Jokowi lebih banyak disebut, karena dia kan petahana. Ada juga kecenderungan, beberapa media lebih condong ke Jokowi. Dan juga karena Prabowo enggak banyak kegiatan.

Kita lihat dari Jokowi dulu, ya. Di Twitter aja (10,8 juta pengikut per 14/1/2019), ada sekitar 1,5 juta total hubungan. Kita pengin lihat siapa sih yang bicara, nah ini ada klusternya. Inilah buzzer-buzzer yang utama, seperti akun @PakarLogika (30,9 ribu pengikut), yang besar-besar tuh ngumpul di satu titik.

Ini perbincangan soal Jokowi, ada kontribusi kubunya Prabowo. Kalau kita lihat, ini juga besar. Artinya dia juga berkontribusi terhadap besarnya percakapan tentang Jokowi.

Selain kubu Jokowi dan Prabowo yang meramaikan pembicaraan tentang ‘Jokowi’, ada juga bot-bot. Banyak sekali. Tiap kelompok bot, punya isunya sendiri. Ganti isu, botnya ganti lagi.

Yang saya lihat, di Jokowi, kelompoknya tuh banyak, dan mereka tidak saling mendukung sebenarnya.

[next]

Maksudnya tidak saling mendukung?

Mereka mempromosikan isu sendiri-sendiri. Jadi kalau yang lain lagi ngomongin isu apa, yang lainnya enggak mau nge-share.

Masing-masing ingin punya kontribusi sendiri, materi sendiri. Akibatnya, tweet-tweet-nya jadi tersebar, ada banyak, tapi terpecah-pecah.

Itu termasuk strategi kah?

Itu keadaan mereka, kondisi mereka. Kalau kita omong strategi, itu kan artinya direncanakan. Kalau ini, memang begitulah keadaan mereka.

Kenapa? Keadaannya, banyak kelompok dan grup yang ingin berkontribusi. Sehingga mereka punya agenda, materi, isu baru, itu mereka share. Mereka enggak mau saling nge-retweet. Sehingga, gambarannya terpencar.

Lalu strateginya bagaimana?

Kalau strateginya, dari sisi konten. Jadi tiap kali ada acaranya Jokowi—keberhasilan ini, keberhasilan itu—mereka langsung bikin materi. Misalnya Jokowi ke Lampung, pembukaan acara apa, buka tol, itu langsung materinya dibikin. Banyak sekali.

Kalau dulu (awal tahun 2018), jenis tweet-nya enggak banyak, tapi di-retweet berulang-ulang. Itu kelihatan robot banget.

Kalau sekarang, sejak akhir tahun 2018, mereka bikin cerita buanyak, disiapkan dulu tweet-nya, baru ini kemudian di-share sama si bot-bot.

Satu tweet mungkin sepuluh bot. Makanya percakapan Jokowi besar sekali, tetapi interaksinya kecil. Banyak yang nge-tweet tapi karena yang nge-tweet robot, yang enggak punya teman, jadi yang nge-retweet sedikit.

Strategi lain adalah menambah jumlah follower bot-bot. Follower bot-bot sekarang juga udah banyak. Dulu itu selalu kecil.

Sebelum Desember 2018 itu selalu aku kritik, follower-nya berjumlah 0, 3, sekarang udah enggak. Untuk memberi kesan bahwa itu bukan robot, follower-nya dibuat tinggi sampai 100 lebih.

Di kubu Prabowo seperti apa?

Ini percakapan soal Prabowo (3,49 juta pengikut per 14/1/2019). Dia cuma punya satu cluster. Dia juga pakai bot, tapi tidak sebanyak kubu Jokowi. Umumnya mereka ngumpul jadi satu, jadi lebih solid.

Interaction rate-nya Prabowo lebih tinggi?

Karena ini banyak human, sedikit robot, begitu nge-tweet, yang nge-retweet bisa banyak sekali. Jadi interaksinya tinggi. Rata-rata satu tweet, di-retweet dan reply 6,3 kali.

Kalau [kubu] Jokowi, satu tweet hanya di-retweet hanya 2,9 atau 3 kali lah.

Secara strategi, lebih efektif yang mana?

Kita bandingkan waktu mereka kampanye, #JKWTakutPaparkanMisiVisi dengan #PrabowoTakutTesNgaji. Ini benar-benar kampanye eksklusif antara kedua kubu.

‪#‎JKWTakutPaparkanMisiVisi‬ dipakai oleh kubu Prabowo, dan ‪#‎PrabowoTakutTesNgaji‬ dipakai kubu Jokowi. Dua hashtag ini tidak dipakai interchangeably [secara bergantian].

Dari pantauan dan analisis kami, Uji Ngaji mendapat respons lebih sedikit dibanding Visi Misi. Kami melihatnya dari interaction rate. Uji Ngaji hanya dapat 4,08, sedangkan Visi Misi 12,13.

Dari segi kekuatan real user, kubu Prabowo lebih besar daripada kubu Jokowi. Untuk mengimbangi itu, kubu Jokowi harus pakai bot. Dia harus main itu, kalau enggak, enggak ngejar. Akibatnya, interaction rate rendah.

Interaction rate ini persisnya menunjukkan apa?

Semakin tinggi interaction rate, semakin natural percakapannya. Semakin rendah interaction rate, semakin mendekati pola robot.

Jadi, kita lihat strategi dari sisi sibernya. Secara real akun, Prabowo lebih solid. Di Jokowi itu, bot-nya lebih banyak. Mereka memborbardir Twitter agar percakapan tentang satu hashtag naik.

Contohnya, #PrabowoTakutDebat. Kubu Jokowi bikin tweet yang begitu banyak, bahkan enggak dapat retweet. Lalu retweet-nya makin naik. Yang nge-retweet ini biasanya user real. Jadi awalnya bot dulu. Sampai terjadi trending. Ketika sudah di-notice dan banyak di-retweet real user, bot-nya stop.

Itu caranya, robot dulu bikin tren, terus orang pada ngikut. Nah, ini strategi kubu Jokowi. Canggih. Menurut saya, canggih.

Canggihnya kenapa?

Dia punya duit, kan. Ini kan bayar, profesional. Hampir semua hashtag yang menguntungkan kubu Jokowi, strateginya begitu.

Sementara di kubu Prabowo, jarang aku temukan model-model begini. Karena mereka lebih banyak orang. Jadi kalau ada satu nge-tweet, mereka langsung naikin ramai-ramai. Lebih organik.

Kalau dari sisi konten, strategi keduanya seperti apa?

Jokowi bagus, banyak menyampaikan keberhasilan-keberhasilannya. Menyerang juga banyak. Banyak meme untuk keberhasilan tertentu.

Kadang ada percakapan yang enggak menarik. Isinya ya kayak berita saja. Nah, yang begitu akan sulit untuk viral. Biasanya mereka bikin meme, di-share lewat robot.

Kalau kubu Prabowo, secara konten bagaimana?

Kalau aku perhatikan, namanya penantang ya, dia belum punya keberhasilan seperti Jokowi yang tiap hari bisa jadi bahan. Paling isinya acara, kunjungan ini, dapat kunjungan ini. Mereka belum masuk ke konten yang menarik. Selebihnya ya mereka menyerang petahana.

Dari yang saya lihat, kubu Prabowo belum banyak bicara soal strategi, solusi apa yang mereka tawarkan atas kritik-kritik terhadap petahana. Nah, ini juga yang harus dikritik dari pasangan Prabowo-Sandiaga. Mereka belum banyak garap konten-konten solusi. Entah masih menunggu, atau enggak ada—ya aku enggak tahu.

Sudah mulai sih, misalnya meme Sandi akan melakukan apa. Tapi ya masih kurang, kontennya masih banyak berisi serangan saja.

Kalau dibandingkan Pilpres 2014, ada pola berbeda yang menonjol kah?

Tahun 2014 itu enggak imbang permainannya.

Tidak imbang bagaimana?

Kubu Jokowi sudah kuat sekali. Kalau dibandingkan 2014—itu belum imbang. Kekuatan media sosial yang paling kuat saat itu adalah kubu Jokowi, karena sebelumnya sudah ada JasMev. Lawannya, hanya segelintir kelompok kecil. Yang dominan itu masih TrioMacan, dan bot-bot yang dibuat TrioMacan. Pasukan kayak MCA belum terbentuk.

Paling melek soal media sosial waktu itu dari partai oposisi kan PKS. Tapi itu pun belum banyak. Jadi enggak imbang. Kekuatan di media sosial dimenangkan oleh Jokowi waktu itu. Sekarang malah berbalik.

[next]

Titik baliknya kapan?

Titik baliknya pas Ma’ruf jadi calon wakil presiden. Sebelumnya yang pro-Ahok banyak dan pasti mendukung Jokowi. Sejak Ma’ruf, yang pro Ahok mundur. Ada juga yang pro-Ahok ikut bantuin Jokowi, tapi kadang-kadang saya lihat dinyinyirin sama temen-temennya.

Kalau dari segi konten, tahun 2014 bagaimana?

Kalau 2014, Jokowi udah pengalaman sebelumnya di DKI Jakarta. Jokowi banyak cerita-cerita keberhasilan, kesederhanaan, blusukan, jadi waktu itu jualannya keren. Dan publik saat itu masih terpesona. Karena Jokowi ini adalah one of us. Kita belum melihat performanya memimpin negara bagaimana.

Strategi yang sekarang bukan lagi menyampaikan janji, tapi bukti. Kebanyakan yang disampaikan yang tampak, paling gampang kan infrastruktur. Masalah kualitas manusia enggak kelihatan.

Jadi, akun-akun organik dari Pilpres 2014 yang banyak mendukung Jokowi, sekarang berkurang?

Puncak pasukan yang mendukung Jokowi itu waktu Pilkada Jakarta. Harusnya bisa jadi modal untuk Pilpres. Tapi kemudian banyak pendukung yang kecewa dengan Nawacita dan janji-janji yang tidak ditepati. Lalu saat Ma’ruf Amin maju, banyak lagi yang kecewa dan enggak peduli lagi.

Dari kubu Prabowo bagaimana?

Kubu Prabowo kuat di media sosial sejak ada dukungan FPI. Juga sejak Aksi 212 tahun 2016. Yang tadinya FPI main di jalanan, terus main ke medsos.

Lalu, tahun 2016 akhir, akun Habib Rieziq dan FPI di take down oleh pemerintah. Ada instruksi jihad di akhir 2016, semua umat Islam harus main Twitter—itulah awal mula MCA [Muslim Cyber Army]. Munculnya akhir 2016.

Namanya muncul, diulang-ulang. Mereka solid banget. Sampai sekarang diikuti makin banyak orang. Makanya jadi kuat secara organik. Lalu mereka ke kubunya Prabowo sekarang.

Menggunakan banyak robot itu menguntungkan kah?

Iya. Itu strategi yang menguntungkan. Orang sekarang main narasi. Misal, mereka mau membesarkan narasi bahwa Prabowo takut debat. Mengkoordinir teman-temannya, yang mungkin sudah tercerai berai, itu akan susah.

Paling gampang apa? Bikin trending topic pakai bot. Cukup satu ruangan ini ditugasin untuk angkat isu tertentu. Masukin proposal, siapkan tweet, kira-kira ada 50 tweet disiapkan. Gampang. Masukin program, terus misalnya ada sekitar 100 robot yang langsung unggah.

Dengan kecepatan yang sangat tinggi, tweet atau hashtag tertentu akan jadi trending. Orang-orang, akun-akun riil, akan melihat dan mereka akan ikut nge-tweet atau nge-retweet.

Untung, sangat menguntungkan karena mudah. Tapi ya begitu, kekuatannya akhirnya kekuatan robot. Kekuatan kemampuan untuk memobilisasi akun-akun robot. Kalau dilihat dari volume, ya tinggi. Tapi ternyata yang bicara adalah robot.

Adakah trending-trending yang dibikin robot tetapi sampai memberi efek ke offline?

Ada. Contohnya kan #Boyolali. Habis Prabowo ngomong, percakapan dengan kata kunci Boyolali landai saja. Hari kedua, siang-siang, ada banyak akun robot yang tiba-tiba meramaikan lagi, tiba-tiba jadi trending lagi.

#SaveMukaBoyolali viral sekali waktu itu. Ketika orang-orang sudah terbawa, robotnya turun. Tetapi real user udah telanjur terbawa dengan hashtag ini. Sampai akhirnya banyak sekali orang Boyolali yang marah dan tersinggung. Lalu ada aksi segala dari orang-orang Boyolali.

Strateginya selalu begitu. Dan menurut saya memang sangat efektif untuk memulai menyebarkan sebuah cara pandang atau pesan yang kira-kira enggak bisa viral secara organik, tetapi kita ingin itu viral.

Sisi negatif dan kerugian pakai robot apa?

Negatifnya ... menipu diri sendiri. Misalkan, tim Jokowi sebagai klien melihat percakapan tentang Jokowi lebih tinggi dari Prabowo, mereka akan happy, merasa puas.

Padahal kalau di-break down, bisa jadi 50 persen yang ngomong adalah oposisi, dalam bentuk serangan. Dan 50 persen sisanya bisa jadi banyak bot juga. Jadi semu. Ini bahaya. Bisa jadi hasil riilnya nanti berbeda.

[portalbersama]

COMMENTS

Loading...
Loading...
Nama

#SaveTiangListrik,1,Aa Gym,4,Abraham Lunggana,1,Abraham Samad,1,Abu Janda Permadi,2,Ade Armando,1,Administrasi Kependudukan,1,Agama,7,Ahli Hadits,1,Ahmad Dhani,1,Ahmad Shabri Lubis,1,Ahok,10,Ahok-Djarot,9,Ahoker,5,Ahokers,3,Akhir Zaman,1,Aksi 1712,1,Aksi 212,2,Aksi 241,1,Aksi 2411,2,Aksi Bela Palestina,5,Aktivis 98,1,Alexi,1,Alexis,2,Alexis Group,2,Alumni 212,8,AM Fatwa,4,Amnesia,1,Anak Punk,1,Ananda Sukarlan,2,Andi Narogong,1,Anggaran,1,Anggota DPR,3,Anggota DPRD,1,Ani Yudhoyono,1,Anies Baswedan,22,Anies-Sandi,13,Anis Matta,1,Ansor,3,Anti Islam,1,APBD,1,Ari Wibowo,1,Arya Wedakarna,5,Aset BUMN,2,Aset DKI,1,Aset Negara,1,Audit,1,Aung San Suu Kyi,1,Bachtiar Nasir,3,Bactiar Nasir,1,Balai Kota,1,Bali,1,Bandar Lampung,1,Bandar Narkoba,1,Bandara Soetta,1,Bangsa,1,Banjir,5,Banser,8,Bareskrim,1,Bareskrim Polri,4,Belanda,1,Berita,84,Bibit Samad Rianto,1,Blogger Yahudi,1,Bobby Nasution,3,Bobby-Kahiyang,1,Boni Hargens,1,Bosnia,1,BPJS,2,BPK,2,Buku SD,1,BUMN,2,Bung Tomo,1,Buni Yani,1,Bupati Trenggalek,2,Bus TransJ,1,Cak Nun,1,California,1,Capt. Mona Shindy,1,China,3,Dai Papua,1,Dakwah,1,Dana Operasional,3,Dana Parpol,3,Debat Capres,1,Deddy Mizwar,2,Deisti Astriani Tagor,1,Den Haag,1,detik.com,2,Dewi Persik,2,Din Syamsuddin,1,Diskotek Diamond,1,Djarot,4,Dokter,2,Dokter Novanto,1,Donald Trump,1,Dosen UGM,1,Dosen UI,1,DPP PPP,1,DPR,5,DPRD,1,Driver Ojek Online,2,Dubes Palestina,2,e-KTP,14,Edy Rahmayadi,1,Emil Dardak,5,Emirsyah Satar,1,Era Ahok,4,Erdogan,2,Eva Kusuma Sundari,1,Fadjroel Rachman,1,Fadli Zon,3,Fahri Hamzah,6,Fahrihamzah,1,Fatmawati,1,Film,5,Film 212,1,Fortuner,2,Forum Badja,1,FPI,5,Fraksi PDIP,12,Fredrich Yunadi,9,Freidrich Yunadi,1,Front Pembela Islam,2,Ganjar Pranowo,2,Gempa,1,Gempa Bumi,1,Generasi Muda NU,1,Golkar,3,Golongan Listrik,2,GP Ansor,3,Gubernur DKI,2,Habib Rizieq Shihab,2,Habib Rizieq Syihab,2,Haedar Nashir,1,Hafiz AS Fatih,1,Haji Lulung,2,Hak Imunitas,1,Hakim Agung,1,Hakim Kusno,1,Halaqah Ulama Nasional,1,Hana Tajima,1,Hendrawan Supratikno,1,Hilman Mattauch,2,Hindu,1,Hotel Alexis,3,ICMI,1,ILC,1,Imunitas,2,Indonesia,3,Indosat,1,Infrastruktur,1,Inpres,1,Irwansyah,1,Islam,8,Islamophobia,1,Israel,4,Istana Negara,1,Jakarta,6,Jalur Busway,1,Jam,1,Jati Padang,1,Jatipadang,1,Jenderal Gatot,1,Jenderal Gatot Nurmantyo,2,Jepang,1,Jerusalem,1,Jimly Asshiddiqie,1,Joko Widodo,4,Joko Widodo-Jusuf Kalla,1,Jokower,1,Jokowi,20,Jokowi-JK,4,Justice League,1,Jusuf Kalla,2,Kader Ansor,1,Kader Golkar,3,Kader NasDem,3,Kadishub,1,Kahiyang Ayu,3,Kali Pulo,1,Kampus,2,Kang Emil,1,Kantor Polisi,1,Kapolri,1,Kapospol,1,Karaoke,1,Karni Ilyas,1,Karyawan MNC,1,Kaskus,1,Kasus e-KTP,14,Kebakaran,1,Kecelakaan,1,Kemenag RI,1,Kereta,1,Ketua DPR,1,Ketum Ansor,3,KH Luthfi Bashori,1,KH Said Aqil,3,KKB,1,Konflik,1,Kopassus,1,Korporasi Swasta,1,Korupsi e-KTP,15,Kostrad,1,KPK,31,KPU,1,Kriminial,1,Kristen,1,KRL,1,KSAU,1,KTP,9,Kudeta,1,kumparan.com,1,Lagu Indonesia Raya,1,Langgar UU,1,Lapas,1,Laskar FPI,2,Lembaga Sensor Film,1,Lembaga Survei Indonesia,1,LGBT,3,Listrik,4,LSI,1,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Syaifuddin,2,Mabes Polri,1,Macet,1,Mahasiswa,2,Maher Zain,1,Mahfud MD,4,Mahkamah Konstitusi,1,Maia Estianty,1,Majelis Ulama Indonesia,1,MAKI,1,Marissa Haque,1,Masjid Assakinah,1,Masjid Nabawi,1,Masyarakat,1,Mayjen Sudrajat,1,Media,1,Meikarta,1,Menista Islam,5,Menkes,1,Menko Kemaritiman,1,Menteri Agama,2,Menteri Dalam Negeri,1,Menteri Kesehatan,1,Mesir,2,Metro TV,8,MetroTV,3,MK,3,MKD,1,Monas,3,Motor,1,Muhammadiyah,1,MUI,3,Muslim,1,Muslim Amerika,1,Nabi Nuh,1,Narkoba,2,Natal,1,Natalius Pigai,2,NATO,2,Naura & Genk Juara,1,Naura dan Genk Juara,2,Nazaruddin,1,Netizen,6,New York,2,Nila F Moeloek,1,NKRI,4,Noor Yasin,2,Novanto,1,Novel Baswedan,2,Nusron Wahid,1,OKI,1,Ombudsman,1,OPM,3,Ormas Islam,1,Pakar Hukum,1,Pakar Pidana,1,Palestina,9,PAN,5,Pancasila,1,Pangkostrad,1,Panglima Militer,1,Panglima TNI,5,Papua,4,Parpol,1,Partai,1,Partai Amanat Nasional,1,Partai Demokrat,2,Partai Gerindra,6,Partai Golkar,4,Partai Keadilan Sejahtera,1,Partai Nasdem,3,Pasar Minggu,1,Pasukan Oranye,1,Paul,1,PBNU,2,PCNU,3,PDI Perjuangan,4,PDI-P,3,PDIP,18,Pelanggar Lalu Lintas,1,Pelecehan Seksual,1,Pelindo II,1,Pemerintahan Jokowi,7,Pemilu 2019,1,Pemotor,1,Pemprov DKI,2,Pemprov DKI Jakarta,4,Pemuda Aswaja,1,Pendeta,1,Pendidikan Islam,1,Pendukung Jokowi,2,Penerima Hibah,1,Pengacara,2,Pengacara Novanto,6,Pengadilan,2,Pengertian,1,Pengguna Motor,2,Pengusaha,1,Penista Agama,1,Perda,1,Perpecahan Bangsa,1,Persekusi,5,Pertamax,1,Pertamina,1,Perwira TNI,1,Petisi,1,Petugas TransJakarta,1,Pilgub Jabar,3,Pilgub Jabar 2018,2,Pilkada Sumatera Utara,1,Pilpres,1,Pilpres 2014,1,Pilpres 2019,3,PKS,5,PLN,1,Polda Bali,3,Polda Jatim,1,Polda Metro Jaya,1,Polisi,11,Politik,1,Politikus PDIP,13,Polling,1,Polri,1,Portal Islam,5,PPP,2,Prabowo Subianto,4,Praperadilan,1,Presiden Jokowi,13,Propaganda,1,Propam Polri,1,Provokasi,1,Proyek Infrastruktur,1,PUSHAMI,2,Putri Gus Dur,1,Putusan Pengadilan,1,Rabbani,1,Radikal,1,Raisa Adriana,1,Raja Bali,1,RAPBD,1,Reklamasi,5,Remaja,1,republikin.com,1,Reuni 212,7,Rezim Jokowi,5,Ria Ricis,1,Rina Nose,8,Riza Patria,1,Rizal Ramli,1,Rizieq Syihab,1,RJ Lino,2,rmol.co,1,Rocky Gerung,1,Rohingya,1,RSCM,2,Rusia,1,Sam Aliano,1,Sandera OPM,1,Sandiaga Uno,10,Saudi,1,SBY,1,Setnov,6,Setya Novanto,52,Sharla,1,Sharla Martiza,1,Sholawat,1,Simbol Islam,2,Simulasi Antiteror,2,Solo,1,SPDP,1,Sri Kaget,1,Starbucks,1,Stop Film Anak,1,suara nasional,1,Sudirman Said,2,Sudrajat,1,Sumber Waras,2,Surabaya,1,Surya Paloh,1,Sutiyoso,1,Swasta,1,Tablig Akbar,1,Tabligh Akbar,4,Tanah Abang,2,Tausiyah Kebangsaan,1,Tentara Israel,2,Teroris,3,Tersangka,1,The Fly,1,Tiang Listrik,1,Tim Anies Sandi,1,Tim Gubernur,2,Tjahjo Kumolo,1,TNI,1,Tokoh Papua,1,Tompi,1,TPN-OPM,1,TransJakarta,1,Tri Rismaharini,1,Turki,1,Ulama,1,Ulama Nasional,1,Umat Islam,4,Universitas,1,Universitas Asing,1,Ust. Bachtiar Nasir,2,Ust. Felix Siauw,4,Ustad Abdul Somad,5,Ustadz Abdul Somad,19,Ustadz Adi Hidayat,1,Ustadz Bachtiar Nasir,2,Ustadz Fadzlan Gamaratan,1,Ustadz Somad,2,Ustaz Abdul Somad,2,Ustaz Somad,3,Utang Luar Negeri,1,UU TPPU,1,vape,1,Victor Laiskodat,2,Victor Layskodat,1,Viktor Laeskodat,1,Viktor Laiskodat,6,Wali Kota Surabaya,1,Wapres JK,1,Warganet,3,Warkop DKI,1,Wartawan,2,Wasekjen PPP,1,Wiranto,2,Yandri Susanto,1,Yasonna,1,Yenny Wahid,1,Yerusalem,3,Yerusalem Timur,2,YLKI,2,Zainudin MZ,1,Zeng Wei Jian,1,Zimbabwe,2,Zulkifli Hasan,1,
ltr
item
Portal Islam Berita Terkini: Pakar Media Sosial: Kubu Prabowo Lebih Kuat dari Segi Kekuatan Real User
Pakar Media Sosial: Kubu Prabowo Lebih Kuat dari Segi Kekuatan Real User
Serupa dengan Pemilihan Presiden 2014, media sosial menjadi arena pertarungan bagi kedua pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019.
https://4.bp.blogspot.com/-ixE8OsDYRh8/XDxbiRTPEzI/AAAAAAAAIrY/NXm_EHb8Lfc-jezOwGTQK4KKWwa83ZChQCLcBGAs/s640/ismail+fahmi.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-ixE8OsDYRh8/XDxbiRTPEzI/AAAAAAAAIrY/NXm_EHb8Lfc-jezOwGTQK4KKWwa83ZChQCLcBGAs/s72-c/ismail+fahmi.jpg
Portal Islam Berita Terkini
https://www.gemarakyat.net/2019/01/pakar-media-sosial-kubu-prabowo-lebih.html
https://www.gemarakyat.net/
https://www.gemarakyat.net/
https://www.gemarakyat.net/2019/01/pakar-media-sosial-kubu-prabowo-lebih.html
true
7866857867655626264
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy