Kisah Klaveren, Jadi Mualaf Setelah Ingin Bikin Buku Anti-Islam

Loading...


Gema Rakyat - Perjalanan kehidupan siapa yang tahu. Hidup-mati, perubahan pikiran, takdir, berjalan secara misterius dan tiba-tiba, tidak disangka akan terjadi, dan dari mana datangnya. Itulah yang terjadi pada Joram van Klaveren, bekas politisi anti-Islam nomor wahid Belanda yang kini justru menjadi mualaf.

Klaveren adalah salah satu bekas petinggi Partij voor de Vrijheid/PVV (Partai Kebebasan) pimpinan Geert Wilders. Nama Wilders di Negeri Kincir Angin identik dengan kebencian terhadap Islam. Pada 2008, Wilders membuat film "Fitna" yang memuat kisah bohong soal Islam, memicu protes di seluruh dunia.

Klaveren sendiri telah tujuh tahun bergabung di PVV, bersama dengan Wilders mendengungkan sikap anti-Islam. Dari mulut Klaveren pernah keluar kalimat "Islam adalah kebohongan", "Muhammad adalah penjahat", atau "Al-Quran adalah racun". Dia memang keluar dari PVV sejak 2014, tapi kebencian terhadap Islam ketika itu masih memenuhi dadanya.

Tapi kini berbeda, yang keluar dari mulut Klaveren adalah kalimah syahadat, pria 39 tahun itu memeluk Islam. Dan dadanya dipenuhi kecintaan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam.

Mengutip wawancara Klaveren dengan media Belanda NRC, Senin (4/1), pria plontos ini ternyata telah masuk Islam sejak 26 Oktober 2018 dibimbing oleh imam Muhamed Aarab.

Buku Anti Islam

Pria lulusan Studi Agama di Vrije Universiteit, Amsterdam, ini mengatakan perjalanannya masuk Islam dimulai pada 2017 ketika dia tidak lagi terpilih anggota dewan. Ketika itu, Klaveren punya banyak waktu lowong selain menjadi peneliti di Adam Smith Institute atau mengajar sebagai dosen. Akhirnya, dia berencana menulis buku soal keburukan Islam.

[next]

Niat awalnya, dia akan menuliskan soal kesengsaraan yang ditimbulkan oleh Islam, kekerasan, kebencian terhadap Yahudi, penindasan perempuan, hingga homofobia. Namun setelah risetnya sudah setengah jalan, yang ditemukannya justru sebaliknya.

Dia menemukan bahwa Islam cinta damai, jauh dari yang selama ini dikampanyekannya.

Buku yang seharusnya soal keburukan Islam, malah jadi buku perjalanan hidupnya menemukan Islam, berjudul: Afvallige. Van christendom naar islam in tijden van secularisatie en terreur (Pantangan: Dari Kristen menuju Islam di tengah sekularisasi dan teror).

Kepada NRC, Klaveren mengatakan momen saat dia menemukan bahwa Islam bukan seperti yang dia kira adalah momen yang tidak membahagiakannya. Apa sebab? Karena selama ini dia salah dan menjadi malu. Melalui bukunya, dia berharap bisa menebus kesalahannya itu.

"Beberapa tahun sebelumnya saya melakukan penolakan yang besar terhadap Islam, dan itu tidak menyenangkan. Tapi sebagai pencari Tuhan, saya selalu resah, dan keresahan itu sekarang perlahan menghilang," kata Klaveren.

Dia mengatakan, kebencian terhadap Islam dan berbagai narasi negatif terhadap Nabi Muhammad dimulai pada abad pertengahan di Eropa dan berlanjut hingga sekarang.

"Saya menemukan kebanyakan cerita negatif berasal dari abad pertengahan Eropa. Kristen melihat Islam sebagai agama saingan dan melakukan segala hal untuk menjelekkannya," kata dia.

"Sebenarnya, rintangan terbesar saya adalah Muhammad. Saya dulu meyakini dia figur yang jahat, pria yang haus akan uang. Ternyata banyak kebohongan yang disampaikan soal pria ini (Muhammad)," lanjut dia lagi.

Dalam bukunya, Klaveren mengutip perkataan sejarawan abad 19 Thomas Carlyle soal Muhammad: "Kebohongan yang disampaikan orang terhadap Muhammad, hanya akan membuat kita malu."
Istrinya legowo Klaveren masuk Islam, namun ibunya merasa tidak suka dengan perubahan agama putranya. Klaveren mengatakan tidak akan memaksakan keyakinannya ini kepada anak-anaknya, biarlah mereka yang menjalani pengalaman spiritualnya sendiri, kata dia.

Masuk Islam, Klaveren mengatakan tidak akan mengubah namanya jadi lebih Islami. Namun perlahan-lahan dia mulai menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim. Dia mulai belajar solat, menghindari alkohol, dan makanan haram lainnya.

"Saya hanya tahu dua surat, Al Fatiha dan Al Ikhlas, yang paling pendek. Saya membeli buku kecil berjudul 'Saya Belajar Quran', buku ini sebenarnya untuk anak kecil hingga 10 tahun, buku berwarna pink," kata dia.

[kum]
Loading...
Back To Top